Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Nasehat Ali Bin Abi Thalib


Wahai manusia...!
Tidak ada kemulian lebih tinggi dari pada Islam.
Tidak ada penghormatan lebih mulia dari pada takwa.
Tidak ada akal yang lebih berperisai dari pada wara.
Tidak ada orang yang lebih baik memberi safa'at dari pada taubat.
Tidak ada pakaian yang lebih cantik dari pada kesehatan.
Tidak ada penjagaan lebih baik dari pada pengawalan-Nya.
Tidak ada harta yang dapat menghilangkan kemiskinan selain dari pada keikhlasan.
Tidak ada barang simpanan yang lebih kaya dari pada sifat qana'ah (merasa cukup).
Barangsiapa merasa cukup apa yang ada, maka dia akan mendapat kekuatan.
Kerugian terhadap sesuatu adalah puncak kelelahan. Pemonopolian itu adalah kesinambungan dari kelelahan.
Hasad adalah bahaya bagi agama, mementingkan diri sendiri adalah puncak peningkatan dosa, kezaliman akan membawa kepada kecelakaan, ketamakan adalah meliputi segala keaiban, kemungkinan ketamakan yang hampa dan angan-angan yang bohong akan membawa kepada pencegahan dari melakukan kebaikan dan suatu perniagaan yang akan membawa kepada kerugian.
Sesungguhnya orang yang melibatkan diri didalam sesuatu masalah tanpa memeriksa terlebih dahulu, maka sungguh ia telah merendahkan dirinya kepada kejahatan, dan sejahat-jahat kalung adalah kalung dosa bagi seorang mukmin.

Wahai manusia...!
Tidak ada simpanan yang lebih bermamfaat dari pada ilmu.
Tidak ada kemuliaan lebih tinggi dari pada budi pekerti.
Tidak ada keturunan yang lebih baik dari pada sopan santun.
Tidak ada kekalahan lebih rendah dari pada kemarahan. 
Tidak ada kecantikan lebih berseri dari pada akal.
Tidak ada kejahatan yang lebih jahat dari pada kebohongan.
Tidak ada penjagaan yang baik dari pada diam. 
Tidak ada kehilangn yang menyedihkan dari pada kematian. 

Wahai manusia...!
Barangsiapa yang telah melihat aib pada dirinya, maka tidak ada waktu baginya melihat aib orang lain.
Barangsia yang ikhlas rezeki yang diberikan Allah kepadanya, maka dia tidak akan pernah berdukacita apa yang ada pada tangan orang lain.
Barangsiapa yang menghunus pedang kezaliman, maka akan dibunuh olehnya.
Barangsiapa yang menggali lobang untuk saudaranya, maka dia akan terjatuh kedalamnya.
Barangsiapa yang membuka tirai aib orang lain, maka aurat rumahnya akan dibukakan.
Barangsiapa terlupa ke khilafannya, maka dia membesarkan ke khilafan orang lain.
Barangsiapa yang kagum akan pendapatnya akan tersesat.
Barangsiapa yang hanya berpegang kepada pendapatnya saja, akan tergelincir. 
Barangsiapa yang sombong terhadap orang ramai, akan terhina.
Barangsiapa yang membodohi orang ramai, akan dicaci maki.
Barangsiapa yang menanggung apa yang dia tidak mampu, akan memjadi lemah.

Wahai manusia...!
Tidak ada harta yang berharga dari pada akal.
Tidak ada kemiskinan yang lebih parah dari pada kejahatan.
Tidak ada penasehat yang lebih baik dari pada kesadaran diri sendiri.
Tidak ada kengerian yang lebih dahsyat dari pada takjub terhadap diri sendiri.
Tidak ada kewara'an yang lebih baik daripada menahan hal-hal yang diharamkan.
Tidak ada budi pekerti yang baik dari pada kesabaran. 

Wahai manusia...!
Sesungguhnya manusia mempunyai sepuluh sifat-sifat yang dilahirkan oleh lidahnya :
yang lahir, menceritakan yang batin.
yang bijak, terdengar dari ucapannya.
yang berbicara, dituntut untuk menjawab.
yang memberi pertolongan, tahu kebutuhan seseorang.
yang menceritakan sesuatu, mengetahui permasalahan.
yang memerintah, memerintah dengan baik.
yang memberi nasehat, melarang hal-hal yang jahat.
yang mulia, dapat menenangkan kesedihan.
yang hadir, dapat mencegah kezaliman dan
yang menghibur, dapat enak terdengar. 

Wahai manusia...!
Tidak ada kebaikan jika berdiam diri dari menceritakan kebenaran. Sebagaimana tidak ada kebaikan jika berkata sesuatu yang tidak diketahui. Ketahuilah wahai manusia! Sesungguhnya orang yang tidak memiliki lidahnya pasti akan menyesal.
Barangsiapa yang tidak mempunyai budi pekerti, maka dia akan ditinggalkan orang banyak.
Barangsiapa yang tidak tahu berterima kasih, maka dia tidak mempunyai akal.
Barangsiapa yang tidak mempunyai akal akan terhina. Barangsiapa yang terhina tidak akan merasa tenang. Barangsiapa yang tidak merasa tenang akan dijelek-jelekkan.
Barangsiapa yang selalu dipuja-puji, suatu saat akan tercela.
Barangsiapa yang menuntut kemuliaan yang bukan haknya, akan terhina.
Barangsiapa yang menang dengan kezaliman akan dikalahkan dengannya.
Barangsiapa menentang kebenaran akan diikuti kelemahan.
Barangsiapa mendalami sesuatu, dia akan merasa tenang.
Barangsiapa merasa sombong, maka dia akan hina.
Barangsiapa yang tidak bersikap adil dalam suatu masalah, maka dia akan dicaci maki.

Wahai manusia...!
Sesungguhnya lebih baik kematian, sebelum terhina.
Mempertahankan diri sebelum tertipu.
Hisablah dirimu sebelum hari pengadilan.
Kubur adalah lebih baik dari pada kemiskinan moral dan amal.
Jagalah pandanganmu itu agar dapat terjaga kehormatanmu. 

Wahai manusia...!
Jika hatimu tidak mampu engkau tundukkan, maka berbahayalah keadaanmu.
Jika engkau selalu memberi harapan kosong, maka tamaklah yang akan menghinamu, jika tamak telah menguasainya, maka sifat-sifat mementingkan diri akan membinasakannya.
Jika perasaan putus asa menguasainya, maka sengsara akan membunuhnya.
Jika kemarahan menghadang, maka dia bertambah marah.
Jika bergembira, maka dia akan melupakan segala-segalanya.
Jika ketakutan menguasainya, maka dia baru akan berhati-hati.
Jika kemauan menguasainya, maka kemuliaan diri akan merampasnya.
Jika ia menguasai harta, maka kekayaanya akan menzaliminya.
Jika kemiskinan menguasainya, maka bahaya akan menimpanya.
Jika kelaparan menguasainya, maka ia akan menjadi lemah.
Jika ia terlalu kenyang, maka ia akan dikuasai perutnya.
Oleh sebab itu setiap sesuatu yang berlebihan pasti mendatangkan mudharat dan merusak.

Wahai manusia...!
Barangsiapa lari dari kenyataan, akan dihina.
Barangsiapa yang pemurah, akan menjadi pemimpin.
Barangsiapa yang memiliki harta yang banyak, akan menjadi ketua.
Barangsiapa mempunyai budi pekerti, akan menjadi mulia.
Barangsiapa banyak bercanda, maka ia akan dipandang remeh.
Barangsiapa yang banyak ketawa, maka kekuatannya akan hilang.
Orang yang tidak mempunyai budi pekerti akan merusak agamanya.
Sesungguhnya perbuatan baik adalah yang menjaga kehormatan dan hartanya. Bukanlah yang bergaul dengan orang bodoh itu sama dengan orang yang mempunyai akal, dan barangsiapa bergaul dengan orang bodoh, maka hendaklah dia bersiap-siap menerima perkataannya.
Orang yang kaya dengan hartanya dan orang yang miskin dengan kemiskinannya, semuanya tidak akan terlepas dari pada kematian.
Seandainya kematian dapat dibeli, niscaya dia akan dibeli oleh orang kaya si hamba dunia.
 
Wahai manusia...
Sesungguhnya hati mempunyai penglihatan untuk mengetahui orang yang zalim dan orang yang bijak dan waspadalah dari bahaya-bahaya yang membinasakan. Hati juga seringkali tergoda oleh nafsu syahwat, tetapi akal yang selalu mencegah dan melarangnya, karena telah memahami pengetahuan tentang hal itu dan telah mengenal diri sendiri sehingga cahaya petunjuk telah terpancar dari-Nya. Cukuplah budi pekerti yang engkau tanam dalam dirimu meskipun engkau tidak suka kepada orang lain. Hakmu terhadap saudaramu sama haknya kepadamu
Sesungguhnya berbahayalah orang yang berpegang kepada pendapatnya sendiri. Pikirkanlah sebelum melakukan sesuatu, karena ia akan menyelamatkan engkau dari penyesalan.
Barangsiapa mengagung-agungkan berbagai pendapat, maka dia mengetahui puncak kesalahan.
Barangsiapa menahan dirinya dari membicarakan yang tidak bermamfaat, maka akalnya membenarkan pemdapatnya.

Demikianlah nasehat-nasehat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, semoga bisa bermamfaat kepada kita semua dan menjadi bahan renungan, agar kita bisa mendapat keutamaan dunia - akhirat. Hanya Allah yang Maha Benar dan kepada-Nya kita berserah diri.

Thank’s to http://boegis.heck.in

Wasiat Ali tentang Kekayaan dan Kemiskinan



Dekat Allah bukan karena miskin, jauhnya pun bukan akibat kaya
 
          la bin Ziyad Al-Haritsi adalah konglomerat besar yang hidup pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Ia tinggal di kota Bashrah. Hampir semua penduduk kota mengenalnya, karena mudah dikenali ciri-cirinya. Rumahnya mewah, pakaiannya wah, dan kendaraannya luar biasa.
          Suatu hari, Ali bin Abi Thalib berkunjung ke Bashrah. `Ala yang dikenal kaya raya meminta agar Khalifah berkenan untuk mengunjungi rumahnya. Ia berpikir bahwa khalifah yang menguasai hampir separoh dunia itu sangat layak untuk dijamu di rumahnya. Sesampai di rumah `Ala, Amirul Mukminin sangat kagum melihat kemewahan rumahnya. Ia sendiri hanya tinggal di rumah sederhana layaknya rakyat biasa.
Setelah puas memandang interior rumahnya, Ali bin Abi Thalib menghampiri tuan rumah, sambil berkata: “Wahai `Ala, apa untungnya memiliki rumah sebesar ini, padahal engkau memerlukan rumah yang lebih besar dan lebih mewah kelak di akherat?” Pertanyaan Ali tidak bisa dijawab oleh `Ala. Pada mulanya ia berpikir bahwa sang khalifah hanya layak dijamu di istananya yang mewah dan megah itu, tapi ternyata sang khalifah bukanlah “orang dunia”. Ia tidak memandang dunia lebih dari sayap nyamuk. Kekuasaan yang digenggamnya tidak lebih dari sekadar sarana untuk beribadah kepada Allah dengan cara melayani makhluq-makhluq-Nya, yang bernama manusia.
Ia menguasai dunia, tapi tidak dikuasai dunia. Melihat perubahan mimik dan perwajahan tuan rumah, Ali bin Abi Thalib segera dapat menangkapnya. Apalagi sebelumnya ia telah mengetahui bahwa tuan rumah mendapatkan kekayaannya melalui jerih payahnya sebagai saudagar, bukan dari hasil KKN. Oleh karenanya, Khalifah Ali segera menyampaikan pesannya: “Wahai `Ala, engkau bisa menjadikan rumahmu yang besar ini sebagai kendaraan yang akan mengantarkanmu pada rumah yang lebih besar di akhirat kelak” Betapa gembiranya tuan rumah mendengar pernyataan khalifah yang bijak itu. Ia segera menyambutnya dengan pertanyaan: “ Bagaimana caranya, wahai Amirul Mukminin?” Ali menjawab: “Engkau buka rumahmu ini untuk para tamu yang menghajatkannya, ikat silaturrahmi di antara kaum Muslimin, bela, dan tampakkan hak-hak kaum Muslimin di rumahmu, jadikan rumah ini sebagai tempat pemenuhan hajat saudara-saudara sesama Islam, dan jangan batasi hanya untuk kepentingan dan keserakahan dirimu semata-mata.”
          Puas dengan pernyataan dan jawaban Khalifah, tuan rumah memanfaatkan kesempatan langka itu untuk mengajukan permasalahannya yang lain. Ia bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, aku mempunyai seorang saudara. Dia telah mengubah total cara hidupnya. Dia sekarang hanya berkhalwat di tempat-tempat sunyi, berpakaian kumuh, meninggalkan pekerjaan, bahkan menelantarkan keluarganya. Saudaraku yang bernama `Ashim bin Ziyad Al-Haritsi ini selalu mengatakan: `Semua itu aku lakukan semata-mata hanya ingin mendekatkan diri kepada Allah Swt.' Apakah sikap dan perbuatan saudaraku itu benar?”
Ali bin Abi Thalib meminta agar `Ashim dihadirkan ke hadapannya. Di depan `Ashim, khalifah berkata agak kasar, “Wahai `Ashim, orang yang telah memusuhi dirinya sendiri! Sungguh setan telah memperdaya akalmu. Mengapa engkau telantarkan anak dan istrimu dengan alasan ingin mendakatkan diri kepada Allah?” “Apakah kau kira bahwa Allah yang menciptakan alam semesta beserta seluruh kenikmatannya itu tidak rela jika kau gunakan kenimatan itu secara tepat? Demi Allah, tidak begitu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah!” Merasa terpojok, kemudian `Ashim menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, aku lakukan semua ini semata-mata karena ingin meniru kezuhudan dan kesahajaanmu. Engkau hidup susah, akupun demikian. Engkau berpakaian kasar, akupun meniru. Engkau cukupkan dengan makan sekeping roti, akupun mencontohmu. Engkau adalah panutanku, wahai Amirul Mukminin.” Menghadapi jawaban `Ashim, Ali mencoba untuk mengklarifikasi dan mendudukkan persoalan pada tempatnya. Ia berkata, “Wahai `Ashim, aku berbeda dengan kamu. Aku memegang kekuasaan khilafah kaum Muslimin, sedangkan kamu tidak. Di bahuku terpikul amanat yang amat berat, sedangkan kamu tidak demikian. Aku mengenakan jubah kepemimpinan, sedangkan kamu adalah rakyat yang aku pimpin.” “Tanggung jawab seorang pemimpin di hadapan Allah itu teramat sangat berat. Allah mewajibkan para pemimpin untuk berbuat adil kepada setiap rakyatnya, sedangkan rakyat yang paling lemah adalah standar bagi dirinya. Seorang pemimpin selayaknya hidup seperti rakyatnya yang paling sederhana agar tercipta solidaritas dan perasaan senasib seperjuangan. Oleh karena itu, di bahuku ada kewajiban yang harus kutunaikan, sedangkan di bahumu ada kewajiban lain yang harus engkau laksanakan.”
          Kita mengenal baik dua menantu Rasulullah Saw, yaitu Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Yang satu kaya raya, sedangkan yang lain sederhana, jika tidak boleh dibilang miskin. Kedua-duanya adalah kesayangan Rasulullah, bukan karena kayanya atau karena sederhananya. Kedua memantu itu disayang Rasulullah karena keshalihannya. Banyak orang kaya yang salah memandang kekayaannya, seperti halnya banyak juga orang miskin yang salah dalam memandang kemiskinannya. Kaya dan miskin adalah dua saudara kembar yang selalu ada dan menghiasi hidup di dunia. Tidak ada yang bisa disebut kaya jika tidak ada yang miskin, demikian juga sebaliknya. Al-Qur'an sendiri menyebutkan: “Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rizki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rizkinya itu) tidak mau memberikan rizki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rizki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (an-Nahl: 71) Kaya dan miskin merupakan rekayasa Ilahiyah, sebagaimana siang dan malam. Masalahnya bukan pada kaya dan miskinnya, tapi bagaimana memandang harta tersebut. Tidak sedikit orang kaya yang benar dalam memandang kekayaannya. Akan tetapi sebagian besar yang lainnya persis seperti yang disitir oleh ayat di atas. Mereka tidak mau berbagi hartanya kepada orang lain, terutama kaum fakir miskin. Tidak ada yang berani membuat penilaian dan perbandingan antara Utsman bin Affan yang kaya raya dengan Ali bin Abi Thalib yang sangat sederhana. Apakah Ali yang lebih baik dari Utsman, atau Utsman justeru yang lebih baik dari Ali bin Abi Thalib. Yang jelas, keduanya termasuk sepuluh sahabat yang dijamin Nabi Muhammad Saw masuk dalam surga. Keduanya disayangi Rasulullah, bahkan kecintaannya dibuktikan dengan mengambil keduanya sebagai memantunya.
          Suatu saat, seorang guru merekomendasikan kepada muridnya untuk berguru kepada seorang sufi ternama. Setelah melewati perjalanan yang amat panjang, sang Murid akhirnya bisa berjumpa dengan guru yang dimaksud. Betapa kagetnya setelah ia mengatahui rumahnya yang mewah bak istana raja. Ia bertanya kepada para tetangganya, apakah betul bahwa istana itu tempat tinggal sang Sufi sebagaimana yang direkomendasikan oleh gurunya. Semuanya menjawab “Ya”. Lebih kaget lagi setelah si pemilik istana itu datang dengan pakaian yang mewah dan kendaraan yang luar biasa bagusnya. Sang murid bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar yang dimaksudkan oleh gurunya. Akan tetapi karena telanjur sudah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan, iapun menjumpai Sufi yang kaya raya tersebut.         Setelah menyampaikan salam dari gurunya, ia pun menyampaikan maksud dan tujuannya. Betapa kagetnya sang murid setelah mendengar kata-kata yang keluar dari lisan Sufi yang kaya raya itu. Ia berkata, “Tolong sampaikan salam saya kembali kepada gurumu. Aku berpesan agar dia tidak selalu sibuk dengan urusan dunia.” Bak disambar petir di siang bolong. Bagaimana mungkin orang kaya raya itu memberi nasehat kepada gurunya yang jauh dari kehidupan dunia agar tidak sibuk dengan urusan dunia. Bukankah yang lebih sibuk mengurus dunia adalah orang kaya tersebut? Ia pamit pulang, tidak jadi berguru kepada orang yang direkomendasikan oleh gurunya. Sesampai di padepokan gurunya, ia melaporkan semua kejadian yang dialaminya, termasuk nasihat orang kaya itu kepada gurunya. Sang murid lebih tidak mengerti lagi setelah sang guru yang sangat dihormati itu ternyata menangis dan membenarkan nasihat orang kaya raya tersebut.
          Sang guru akhirnya menjelaskan bahwa orang kaya raya yang dijumpai oleh muridnya itu memang memiliki istana yang mewah, kendaraan yang bagus, dan selalu berpakaian indah. Tanah perkebunannya luas serta memiliki pabrik yang mempekerjakan banyak karyawan. Namun demikian, harta yang melimpah itu tidak menyebabkannya lalai dan lupa kepada Allah Swt. Hartanya tidak mengganggu dzikirnya kepada Allah Swt. Ia tidak sombong karena hartanya dan jika sewaktu-waktu hartanya diambil oleh pemiliknya, Allah Swt, ia pun tidak merasa terhina karenanya. Ia memandang harta biasa-biasa saja. Sementara saya, kata sang Guru, biar tidak punya harta yang melimpah, tapi hari-hari masih disibukkan untuk memikirkan harta. Bahkan bisa jadi saya, kata sang guru, lebih sibuk memikirkan urusan harta dari pada si sufi yang kaya raya tersebut.
          Kepada orang yang diberi karunia rizki yang lebih oleh Allah swt, hendaknya mereka dapat mengelola hartanya sebagai sarana untuk mendapatkan harta kekayaan yang lebih besar kelak di akhirat. Tak perlu bersikap kontra produktif dengan meninggalkan kehidupan dunia. Janganlah mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah Swt. Adapun terhadap orang-orang yang belum mendapatkan rizki lebih dari Allah Swt, hendaklah tetap menjalankan ketaatan kepada Allah Swt dengan tulus dan ikhlas. Nikmati kemiskinan dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah Swt. Akhirnya, tidak ada halangan bagi orang kaya untuk menjadi shalih dan dekat dengan Allah swt. Demikian juga tidak ada alasan bagi orang miskin untuk tidak mendekat kepada Allah karena kemiskinannya. Orang kaya dan orang miskin mempunyai kesempatan yang sama untuk mendekati Allah Swt.

Thank’s To http://fp.uns.ac.id

Ilmuan Islam yang Terlupakan Dunia


Ibnu Rush (AVERROES) 

     Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja’far Harun dan Ibnu Baja.
     Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang mempengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.Pemikiran Ibnu Rusyd
     Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.
     Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya.Karya ·
Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih) ·Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran) · Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat)

Ibnu Sina (AVICENNA)

      Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
     Karya Ibnu Sina, fisikawan terbesar Persia abad pertengahan , memainkan peranan penting pada Pembangunan kembali Eropa.
Ibnu Sina adalah seorang Persia, fisikawan, filosofis, dan ilmuwan yang lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).
Kehidupannyan dikenal lewat sumber – sumber berkuasa. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya.
     Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.
Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
     Ibn Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intellectual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.
Meskipun bermasalah besar pada masalah – masalah metafisika dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku – bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan – kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata – katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak dikenal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.
     Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode – metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat – obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Al-Biruni

      Merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazm di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma’mun Khawarazmshah. 

     Abu Raihan Al-Biruni juga mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni dan menemani beliau dalam ketenteraannya di sana, mempelajari bahasa, falsafah dan agama mereka dan menulis buku mengenainya. Dia juga mengetahui bahasa Yunani, bahasa Suriah, dan bahasa Berber. Dia menulis bukunya dalam bahasa Persia (bahasa ibunya) dan bahasa Arab. Sebagian karyanya ialah:· Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari. · Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, “Kartografi”, yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar. ·
     Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul “Kronologi” yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh beliau (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah. ·
Beliau membuat penelitian radius Bumi kepada 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16)
Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku.
Sumbangannya kepada matematika termasuk:
*aritmatika teoritis and praktis
*penjumlahan seri
*analisis kombinatorial
*kaidah angka 3
*bilangan irasional
*teori perbandingan
*definisi aljabar
*metode pemecahan penjumlahan aljabar
*geometri
*teorema Archimedes
*sudut segitiga


Thank’s To http://thewinds7.blogspot.com
Go... Blog ^^. Diberdayakan oleh Blogger.